Jakarta – Mabes Polri memastikan pelaku bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, Jawa Tengah 25 September lalu, adalah Ahmad Yosepa alias Hayat setelah melakukan identifikasi dan tes DNA.
Ya, dengan kepastian ini maka berakhirnya petualangan Hayat dalam menyebar teror di masyarakat. Tapi, tunggu dulu ancaman bom bunuh diri belum berakhir. Calon “pengantin”, sebutan untuk bomber ini setidaknya masih ada empat orang lainnya.
Seperti diketahui, Mabes Polri telah merilis lima daftar pencarian orang (DPO) dalam kasus bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon pada 15 April lalu yang melibatkan M Syarif, salah satunya adalah Hayat. Kini empat DPO masih berkeliaran yakni, Yadi Al Hasan, Amir Ashabul Kahfi Cirebon; Heru Komarudin; Beni Asri; dan Nanang Irawan alias Nang Ndut alias Gendut alias Rian.
Mereka memiliki peran berbeda-beda. Hayat disebut sebagai perencana sekaligus perakit bom bunuh diri di Masjid Adz Dzikra. Dia juga dipersiapkan untuk menjadi pengantin atau pelaku bom bunuh diri dalam rencana aksi selanjutnya.
Adapun Yadi Al Hasan, disinyalir menyembunyikan pelaku bom Klaten dan memberi perintah untuk memberikan pelatihan kepada perakit bom bunuh diri. Heru Komarudin merupakan perakit bom yang diledakkan Syarif. Sedangkan Beni Asri dan Nanang Irawan berperan menyembunyikan rangkaian bom.
Modus pelaku bom Solo mirip dengan di Cirebon, mengikatkan rangkaian bom jenis low explosive di dada dan perutnya. Selain masih memburu DPO bom Cirebon, polisi juga masih mencari 15 bom pipa aktif yang disembunyikan lima DPO ini. Juga berbagai jenis senjata laras panjang.
Kelompok ini membuat 22 bom rompi di dua tempat yakni di rumah mertua Syarif di Majalengka dan di rumah kontrakan tersangka lain, Ishak Andriana di Kota Cirebon. Masing-masing bom rompi terdiri atas 7 sampai 8 bom pipa, 1 bom rompi yang terdiri atas 7 bom pipa telah meledak di TKP bom bunuh diri di Masjid Adz Dzikra,7 bom telah ditemukan, dan sisanya sebanyak 15 bom masih dalam pencarian.
Keberadaan bomber yang masih buron ini jelas masih menjadi ancaman karena mereka bisa dimana saja dan kapanpun meledakan diri dengan bom rakitan, sesuai dengan target yang telah dipersiapkan. Tentunya, ini menjadi pekerjaan bagi polisi, Densus 88, dan intelijen negara untuk mengendus pergerakan mereka. Sehingga, rencana peledakan bom bunuh diri yang dapat meminta korban jiwa warga lain, dapat dicegah.
Mengenai alasan para pengantin ini berani melakukan aksi nekat yang dinilai salah kaphrah itu, Mabes Polri dalam jumpa pers membeberkan alasannya. Rencana jihad yang dilakukan bomber Solo, Achmad Yosepa Hayat dinilai keliru. “Motifnya mereka ingin berjihad, tapi caranya salah,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam dalam jumpa pers Selasa (27/9/2011).
Kini pertanyaannya adalah lokasi mana yang akan menhadi target para pengantin itu? Terkait sasaran kelompok teroris ini, Pemerintah Ingris pernah memprediksi serangan teroris akan terjadi di Surabaya, Semarang, dan Surakarta. Informasi ini seperti dirilis pada Minggu lalu, pascabom bunuh diri GBIS, Solo.
Dalam keterangan Travel Summary dari Sekretariat Kementerian Luar Negeri dan Negara-negara Persemakmuran Inggris disebutkan, “Kami percaya serangan selanjutnya di lokasi lain di Pulau Jawa, termasuk Surabaya, Semarang, Surabaya, dan Solo”. Travel Summary dirilis dalam laman fco.gov.uk.
Pengamat Intelijen, Dynno Cressbon menilai aksi teror di Indonesia masih akan terus berlangsung meski pemerintahan berganti kepemimpinan. Pasalnya para pelaku teror merupakan alumni kasus Ambon dan Poso yang sejak awal menginginkan Indonesia menjadi negara Islam.
Menurut Dynno daerah-daerah konflik cenderung akan menjadi sasaran target berikutnya bagi para pelaku teror. Meski demikian, hal itu tidak dapat diprediksi mengingat strategi pelau teror selalu berubah pola.
Daerah konflik seperti Ambon yang diprediksi berpotensi teror bom memang terbukti. Sejak kemarin dan hari ini sudah ditemukan empat paket bom rakitan. Yakni di Gereja Maranatha dan Terminal Talake. Pada Senin malam, sebuah gereja di kawasan Karang Panjang dilempari bom pipa oleh dua orang tak dikenal dan selang dua jam kemudian bom kembali dilemparkan ke arah Gereja Anugerah, tak jauh dari Karang Panjang.
Menurut Kadiv Humas Mabes Polri, bom yang ditemukan di empat tempat ini memiliki jenis yang sama. “Rakitan bahan peledak dengan jenis yang sama. Diduga dilakukan orang yang sama, sekarang sedang dilakukan penyelidikan,” kata Anton.
Sebelumnya, pengamat intelijen Wawan Purwanto juga memperkirakan bom bunuh diri yang dilakukan di GBIS telah dipersiapkan sejak Agustus lalu. Sebetulnya 14 Agustus lalu sudah ada laporan intelijen bahwa ada lima orang yang sudah siap menjadi pengantin dan sudah dibaiat,” katanya, kemarin.
Kelompok ini, kata dia, memang merencanakan melakukan pemboman antara Agustus hingga September. Informasi ini, menurut Wawan, sudah dilaporkan dan dilakukan antisipasi. Seperti pada Agustus yang bertepatan dengan pengamanan menjelang Idul Fitri. (sindonews.com)
