JAKARTA – Melihat dari kesiapan Jepang menangani dampak gempa 9,0 Skala Richter (SR) dan tsunami, menunjukkan kesiapan mereka dalam penatalaksanaan bencana. Selain sistem penanganan yang efektif, Jepang juga sudah sejak lama memasukkan kurikulum pendidikan bencana yang diterapkan di semua jenjang sekolah.
Penduduk Jepang terlihat tetap tertib dalam berbagai upaya evakuasi termasuk saat tinggal di penampungan, Meski mereka didera kepanikan.
Hal itu sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia,dan kepanikan itu semakin membuat masyarakat makin tidak teratur. Ketidakteraturan terlihat dalam berbagai upaya evakuasi atau pun saat pembagian bantuan di pengungsian. Selain belum matangnya sistem penanggulangan bencana, pendidikan kebencanaan di Indonesia terkesan sekadar menempel pada kurikulum wajib di sekolah.
Hal itulah yang kini mendasari Menteri Pendidikan Nasional Indonesia. yang akan memulai kurikulum pendidikan tanggap bencana. berikut penjelasan selengkapnya.
Mengenai bentuk Pendidikan tanggap bencana di indonesia:
Untuk saat ini masih belum merata di tiap daerah. dan biasanya hanya ada pada daerah – daerah tertentu yang rawan bencana.
Dan menurutnya setiap pelajar Indonesia, baik yang tinggal dikawasan rawan bencana ataupun tidak, wajib memperoleh pendidikan tanggap bencana. sebagai bekal jika ada sesuatu hal buruk yang terjadi.
Pengetahuan diberikan melalui pemaparan berbagai informasi mengenai beragam bencana. Jika sudah mengetahui, siswa dilatih terbiasa menjalani pendidikan dan pelatihan kebencanaan berdasarkan informasi yang sudah dia miliki itu. Kebiasaan tersebut lama-kelamaan akan menjadi budaya. Dan budaya yang terinternalisasi akan menciptakan
karakter siswa yang tanggap bencana. (
admin)
