GROBOGAN – Rusdi (70) warga Desa Ngeluk, Kecamatan Penawangan tewas di tangan Siswo (38), anak sulungnya sendiri, Senin (22/2) sekitar pukul 20.00. Korban tewas dengan luka parah di kepala bagian belakang setelah dihantam pelaku menggunakan sebatang kayu.
Tak hanya itu, adik kandungnya, Jumilah (22) juga menjadi sasaran amukan kakaknya itu. Korban luka memar di kening setelah dipukul pelaku dengan kayu yang sama.
Suparmi (61), saksi mata juga tetangga korban kepada Suara Merdeka menuturkan, saat kejadian korban tengah menunggui Ngatimin (36) anak keduanya, yang baru pulang dari RS karena kecelakaan. Tanpa diketahui sebabnya, tiba-tiba pelaku datang membawa kayu sepanjang satu meter dan langsung memukulkannya ke kepala bagian belakang korban.
Warga yang berkumpul di masjid dekat rumah korban langsung berdatangan dan mengamankan Siswo. Sedangkan korban yang bersimbah darah dibawa warga ke RS Panti Rahayu Yakkum Purwodadi untuk mendapatkan perawatan namun nyawanya tidak tertolong.
Transmigrasi Ditambahkan Suparmi, pelaku baru satu bulan bertempat tinggal di Desa Ngeluk. Sejak umur 7 tahun, ia diajak transmigrasi ayahnya ke Sumatera. Sepuluh tahun kemudian, ayahnya pulang ke desa, dan pelaku ditinggal di lokasi transmigran karena menikah dengan gadis setempat.
’’Ketika di Sumatera, ternyata Siswo mengalami gangguan jiwa hingga akhirnya istrinya meminta tinggal di Jawa. Selama sebulan di sini baik-baik saja, tetapi entah kenapa kemarin kok menjadi beringas,’’ tutur Suparmi.
Ketika ditanya wartawan sesaat sebelum dijemput petugas, pelaku mengaku tega membunuh ayahnya karena dendam. ’’Ayah saya punya ilmu hitam. Air sumur dan gentong yang saya gunakan berbau buah Markisa. Ayah saya juga bersekongkol dengan orang sekampung agar membenci saya,’’ kata pelaku dengan gaya bicara sekenanya.(Sm/Admin)
