Semarang-(4/11) Gunung merapi terus mengeluarkan gejolaknya, beberapa tempat pengungsian yang telah di siapkan oleh pemerintah setempat mulai penuh akibat membludaknya jumlah warga yang datang kepengungsian, hal ini disebabkan oleh adanya perubahan zona aman yang di tetapkan oleh badan vulkanologi dari 10 km menjadi 15 km. Bertambahnya jumlah pengungsi di GOR Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, sampai saat ini mencapai 625 jiwa. Penanggung jawab barak pengungsi, Muhammad Ardiansyah mengatakan, “Pengungsi berasal dari 13 desa di, sementara ini telah diadakan upaya untuk mengurangi tingkat kejenuhan pengungsi seperti dilakukannya permainan bagi anak-anak.”
Untuk keperluan logistik bagi para pengungsi sampai saat ini masih cukup, seiring dengan bertambahnya pengungsi membuat MCK dan juga dapur umum tidak cukup, sehingga diperlukan penambahan.
Sementara itu, Bupati Klaten Jawa Tengah Sunarya, mengatakan warga korban Merapi di wilayah Klaten akan di tempatkan di lokasi pengungsian yang baru yaitu di Bumi Perkemahan dan di Kecamatan Karanganom yang radiusnya 30 km dari puncak merapi. Sedangkan posko utama pengungsian di Kemalang Klaten, juga akan dipindah ke posko yang baru, sambil menunggu perkembangan erupsi gunung merapi yang sampai saat ini masih terus terjadi.
Dengan peningkatan aktivitas gunung Merapi, maka PSBA (Pusat Studi Bencana Alam) Universitas Gadjah Mada mengingatkan kepada Pemerintah Kabupaten maupun Kota DIY agar tetap memikirkan bahaya sekunder dari erupsi Gunung Merapi dan tidak hanya berfokus pada bahaya primer seperti awan panas, abu material, dan hujan kerikil saja, tetapi juga bahaya sekunder merapi yang tidak hanya di alami oleh DIY, namun juga di Jawa Tengah. Bahaya sekunder itu antara lain adalah banjir di gunung merapi sehingga menyebabkan lahar dingin. Banjir akan terjadi apabila hujan deras mengguyur sangat deras dengan kurun waktu 3 jam.
