SEMARANG – Provinsi Jawa Tengah memutuskan kebijakan relokasi untuk
warga desa yang selama ini tinggal di lereng Gunung Merapi masih belum
perlu dilakukan.
“Relokasi warga di Gunung Merapi masih sangat jauh. Jika relokasi dipaksakan maka sama saja mencabut kehidupan warga yang sudah mapan di sana (Merapi),” kata Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih .
Rustri juga memperkirakan, jika kebijakan itu diambil maka belum tentu warga di sekitar Gunung Merapi juga mau menerima. Sebab, jika ada relokasi maka warga menganggap itu justru malah menyusahkan. Selain itu, jika ada relokasi maka dana yang dibutuhkan juga besar. Sebab, hingga kini jumlah warga yang bertempat tinggal di daerah rawan bencana III lereng Gunung Merapi mencapai 30 hingga 40 ribu jiwa.
Daripada sibuk berpolemik soal relokasi, kata Rustri, maka saat ini Provinsi Jawa Tengah sedang mengupayakan pembangunan tempat pengungsian atau penampungan yang permanen.
“Harus ada sarana dan prasarana yang permanen untuk hadapi siklus letusan Gunung Merapi,” ujar Mantan Bupati Kebumen ini.
Yang terpenting kesiapan pada saat hadapi letusan Gunung Merapi dengan
kondisi penampungan yang permanen maka penanganan pengungsi lebih
baik. Rustri menyatakan saat ini pemerintah pusat akan memberikan bantuan
pendirian penampungan permanen dua tempat dengan kapasitas masing-masing 1.500 jiwa pengungsi.
Rencananya, tempat pengungsian permanen ini akan didirikan di Magelang. Namun, saat ini Provinsi Jawa Tengah masih mempertanyakan kenapa tempat pengungsian yang akan dibangun hanya berkapasitas 3 ribu
orang. Kalau bisa, Rustri meminta agar kepasitas penampungan tersebut
lebih besar lagi. Sebab, warga yang mengungsi akibat letusan Gunung
Merapi mencapai puluhan ribu jiwa.
Agar pendirian tempat penampungan bisa ringan maka nantinya akan ada
ada sharing dengan pemerintah daerah. Untuk mematangkan rencana
pendirian penampungan permanen ini maka akan digelar rapat di Badan
Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Kedu antara pimpinan daerah dan
sekretaris daerah di wilayah Kedu. Selain itu, pemerintah juga akan
membuat penujuk-penunjuk arah yang permanan. Jika seluruhnya sudah
permanen maka seluruhnya akan terdata dengan baik jika sewaktu-waktu
ada letusan Gunung Merapi.
“Warga akan tahu mengungsi dimana dan kemana,” pungkasnya. (prz)
