Ustadz Ba’asyir bersama rombongan ditangkap di jalan dalam perjalanan pulang ke Solo, Senin pagi sekitar pukul 08.15 WIB
Pihak keluarga hingga sekarang belum menerima surat keterangan dari kepolisian terkait dengan penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir bersama rombongan di Kota Banjar, Jawa Barat, Senin pagi.
Penangkapan ini sangat disesalkan oleh beberapa kalangan termasuk pihak keluarga yang merasa belum mendapat pemberitahuan.
Selain itu Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, bukan termasuk DPO dalam kasus apapun, sehingga penangkapan kiai sepuh ini juga mengecewakan Abdurahman, Pimpinan Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) Surakarta, saat ditanya wartawan di Sukoharjo, Senin.
Menurut Abdurrahman, penangkapan Ustadz Ba’asyir pada detik-detik menjelang bulan Ramadhan, akan mengganggu kegiatan-kegiatan dakwah Islam selama ini.
Abdurahman menambahkan, dalam rombongan terdapat wanita-wanita yang sudah tua dan mereka kondisi kelelahan karena perjalanan darat yang jauh.
Menurut dia, ada kesan sangat kuat bahwa penangkapan tersebut adalah prestasi atau kredit poin yang dipaksakan menjelang lengsernya Kapolri saat ini.
“Kami menduga penangkapan ini tidak lepas dari upaya pengalihan berbagai isu terhadap kasus yang menimpa Polri sendiri,” kata Abdurrahman.
Oleh karena itu, pihaknya meminta kepada pihak kepilisian agar agar semua yang ditangkap dalam rombongan Ustadz Ba’asyir itu segera dibebaskan tanpa syarat.
“Kami hingga saat ini, mendapat laporan , bahwa ada beberapa anggota keluarga yang hilang dan tidak bisa dihubungi, kata Abdurrahman yang didampingi anak Ba’asyir, Abdurrohim Ba’asyir.
Ia menjelaskan, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir bersama keluarganya ada undangan Tabligh di Bandung, Banjar, dan Tasikmalaya. Dalam rombongan itu, adalah istri Ba’asyir, Aisyah Baraja, istri Ustadz Wahyudin (Direktur Ponpes Al Mukmin Ngruki), Musrikah, sopir, dan eorang pendamping Ba’asyir.
