POLEMIK : NASIB KONVERSI ELPIJI

Oleh : on 31st Juli 2010
Bookmark and Share

Program unggulan Radio SindoRadio Networks Polemik Sabtu, (31 /7/ 2010) mengangkat  tema  Nasib Konversi gas elpiji. Program konversi minyak tanah ke gas elpiji boleh dibilang sukses saat awal diluncurkan pada tahun 2007 lalu. Permintaan terus meningkat. Memasuki tahun ketiga, petaka mulai melanda. Berbagai kejadian kebocoran dan ledakan tabung gas telah memakan korban. Sebabnya, banyak tabung dan asesorisnya yang tidak memenuhi standar nasional.

Anggota DPR yang pernah duduk di Komisi VII (Komisi Energi), Tjatur Sapto Edi, mengatakan, apa yang terjadi saat ini merupakan buah dari kebijakan panik yang ketika diluncurkan terkesan “dipaksakan”. “Program konversi ini program pemerintah yang sangat terburu-buru. Program yang sangat ambisius, dengan target 3-4 tahun harus 100 persen beralih dari minyak tanah ke gas,” kata Tjatur pada diskusi Polemik “Nasib Konversi Elpiji”, di Jakarta, Sabtu (31/7/2010). Menurut politikus PAN ini, masyarakat Indonesia tidak segampang itu mengganti budaya minyak tanah ke gas. “Saat pembahasan program ini, DPR meminta agar dilakukan secara bertahap,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah melalui kementerian yang menjadi operator program ini harus melakukan pembatasan. Sebab, tabung gas dikategorikan sebagai barang berbahaya. Tjatur mencontohkan, di Jepang, hanya 7-8 pabrik yang diizinkan untuk memproduksi tabung gas. Di Indonesia, setidaknya ada 76 pabrik yang memproduksi tabung “melon”. “Banyaknya pabrik yang memproduksi menyulitkan pengawasan,” kata Tjatur.

Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, dari sisi kebijakan, program konversi dinilai bagus. Namun, karena penerapannya saat pemerintah dalam kondisi “panik”, maka menyisakan banyak persoalan. “Saat digulirkan, pemerintah panik dengan subsidi yang membengkak karena harga minyak saat itu naik. Dan pemerintah tergopoh-gopoh mengalihkan konsumsi masyarakat miskin dari minyak tanah ke gas,” kata Tulus.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Kementerian ESDM, Saryono Hadiwidjojo mengatakan, meski saat ini menimbulkan kepanikan, program konversi ini telah menghemat anggaran negara hingga belasan triliun rupiah. Awalnya, pemerintah menargetkan penghematan APBN hingga Rp 22 triliun dengan mengkonversi 42 juta paket. “Tapi kenyataannya, terhemat 32 triliun. Bila dikurangi subsidi untuk program konversi ini, total penghematan sekitar Rp 19,2 triliun. Dari sisi ini, pemerintah teringankan,” ujar Saryono. Namun, Saryono menambahkan, pemerintah menyadari bahwa membutuhkan waktu lama untuk mengubah budaya perilaku dari penggunaan minyak tanah ke gas elpiji.

Berita Terkait

  1. Awas ! Elpiji 3 Kg Ilegal Beredar di Jateng
  2. Harga Elpiji 3 Kg Naik, Rakyat Miskin Dapat Kupon
  3. Mabes Polri-DPR Akan Bahas Masalah Tabung Gas
  4. Polemik SindoRadio “Srumpun Tapi Tak Rukun”, Ramai di Media Malaysia
  5. Subsidi BBM naik 25,6 persen




Get the Flash Player to hear this stream.


Headlines News