Uzbekistan adalah negara yang mengalami lonjakan penduduk tertinggi di dunia, dengan memiliki 27 juta penduduk. Oleh karena itu, pemerintah Uzbekistan pimpinan Presiden Islam Karimov telah bertekad untuk mengendalikan lonjakan jumlah penduduk, guna menekan angka kemiskinan dan pengangguran. Tekanan ekonomi dan lingkungan yang parah ini telah memicu eksodus migran Uzbekistan ke Rusia atau negara-negara lain.
Tidak hanya itu, ratusan wanita yang telah berkeluarga di Uzbekistan dimandulkan paksa demi mengerem lonjakan penduduk. Sterilisasi secara paksa ini dilakukan oleh para tenaga kesehatan secara diam-diam atas perintah sang penguasa.
Salah satu korban pemandulan paksa adalah wanita bernama Saodat Rakhimbayeva (24). Saodat pada Maret 2010 melahirkan bayi prematur bernama Ibrohim yang meninggal 3 hari kemudian.
Kematian anaknya itu telah diikhlaskan oleh Saodat, namun yang membuatnya terpukul ketika mengetahui dirinya tidak akan bisa hamil lagi karena dokter telah mengangkat rahimnya tanpa persetujuan Saodat.
Dokter tersebut beralasan bahwa pengangkatan rahim Saodat dilakukan karena ada kista yang berpotensi menjadi kanker sehingga rahimnya harus segera diangkat.
Namun Saodat tidak mempercayai informasi yang diberikan dokter, dia menuduh dokter telah melakukan sterilisasi paksa sebagai bagian dari penurunan jumlah penduduk.
“Dia tidak pernah meminta persetujuan saya, saya dimutilasi seolah saya adalah binatang bisu,” kata Saodat.
“Kalau tahu begini lebih baik saya mati saja bersama Ibrohim,” tambahnya.
Yang lebih tragis, kini sang suami pun berniat untuk menceraikannya. Suaminya beralasan bahwa ia tidak ingin hidup dengan perempuan mandul.
“Dia bahkan menyalahkan saya. Sekarang saya tidak punya harapan untuk memiliki anak, tidak punya pekerjaan dan tanpa masa depan,” tutur Saodat.
Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) sudah mengecam tindakan pemandulan secara paksa ini yang membuat ratusan wanita menjadi korban. Ketua lembaga HAM Najot di Uzbekistan Khaitboy Yakubov menuding pemerintah telah melampaui batas kekuasannya yang membuat dokter dan tenaga kesehatan harus melakukan sterilisasi di bawah tekanan. (Asti).
