Semarang, Untuk merehab semua pasar yang ada di Kota Semarang, dibutuhkan waktu setidaknya 16 tahun. Itu pun jika pemkot menaruh perhatian penuh untuk segera menghadirkan tempat perbelanjaan yang representatif.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pasar Kota Semarang Drs Ednawan Haryono melalui Kabid Pengaturan dan Ketertiban Pasar, Sapwono. Di samping untuk menghadirkan pasar tradisional yang representatif, menurutnya rehabilitasi diperlukan dengan alasan telah terlampauinya batas umur teknis bangunan.
Lebih lanjut, dia merinci bahwa rehab total hanya bisa dilakukan di dua pasar saja setiap tahunnya. Sebab, kalkulasi biaya pembangunan satu pasar diperkirakan antara Rp 10 miliar hingga Rp 20 miliar.
Namun, jika kerusakan tak diarahkan untuk pembuatan gedung baru, alias dengan tambal sulam, pencapaiannya akan jauh lebih singkat. “Kalau kerusakan gedung hanya ditambal sulam, sasaran perbaikan dalam satu masa anggaran bisa lebih banyak. Selain tak memakan banyak waktu, dana yang dibutuhkan juga lebih sedikit, yakni maksimal Rp 100 juta per pasar,” lanjutnya.
Jika persyaratan sudah siap, pekerjaan fisik tinggal dilaksanakan ketika anggaran sudah siap. Adapun Pasar Pedurungan, Gayamsari, dan Langgar menjadi sasaran perbaikan dengan urutan paling bawah karena kondisinya masih cukup baik.
Tahun ini, pihaknya menganggarkan dana Rp 14 miliar untuk membangun Pasar Sampangan, menyempurnakan Rumah Pemotongan Unggas Penggaron, dan merehab Pasar Rasamala (Banyumanik) dan Bulu.(Adm)
