SALATIGA – Setelah menenggak minuman keras (miras) oplosan, lima pemuda dan seorang remaja putri asal Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Wowok, Ivan, Awan, Cebok, Andis, dan Lilis, dirawat di RSUD Kota Salatiga.
Dokter menganalisis, miras yang ditenggak para remaja tersebut merupakan jenis metanol, dan tidak berbeda dengan miras “maut” yang menyebabkan 22 orang di Salatiga meninggal. Dugaan ini diperkuat karena kondisi yang diderita para remaja tersebut sama dengan para korban miras dua pekan lalu. Mereka mengalami pusing, sesak pada dada, mual dan muntah, pandangan mata memburuk (buta), dan lainnya.
Dua orang pemuda, Andis dan Awan, masih mendapatkan perawatan intensif di RSUD Kota Salatiga.
Dua pemuda lain, yakni Ivan dan Sukmo Cahyo sempat memeriksakan diri di RSUD. Mereka memutuskan meninggalkan rumah sakit untuk rawat jalan atau pindah ke rumah sakit lainnya.
Yang paling parah adalah Andis, dia kerap muntah dan mual, bahkan matanya sudah buta, ketika disinari lampu senter tepat di matanya, dia tidak dapat melihat. Dokter spesialis penyakit dalam, Agus Sunaryo SpPD MMR mengatakan, berdasarkan informasi dan analisis sementara, mereka keracunan metanol. ’’Kondisinya tidak berbeda jauh dengan korban miras metanol yang lalu,’’ kata dokter Agus.
Para korban miras itu masih dapat ditangani dengan cepat oleh tenaga medis. Karena kondisinya membaik, mereka dirawat di ruangan biasa. Namun akibat keracunan metanol, kondisi korban bisa berubah setiap waktu.
’’Kalau kondisinya atau sistem metabolistiknya memburuk akan dirawat di ICU. Tapi sampai sejauh ini masih bisa ditangani dan belum ada perubahan ke arah yang buruk,’’ terang dokter Agus.
Andis dan Awan masih bisa diajak komunikasi oleh dokter Agus. Andis mengaku miras yang ditenggak berasal dari Awan.
Awan mengungkapkan, sebotol miras tersebut dia peroleh dari Pak De-nya asal Surakarta. Miras itu jenis ciu dari Bekonang Solo. Lalu mereka minum berenam malam Minggu lalu. Namun, Selasa malam lalu mereka merasakan dampaknya, dan kemudian masuk ke rumah sakit. (Asti).
