Mengoptimalkan kembali jalur rel kereta api akan jauh lebih efektif dan efisien dibanding dengan membangun jalan tol yang saat ini tengah banyak di bangun di Jawa Tengah, karena potensi jalur rel KA cukup besar terutama untuk angkutan barang. Demikian dijelaskan Pakar Transportasi Universitas Soegijapranata Semarang Djoko Setijowarno dalam sebuah diskusi terbatas yang digelar F-PKS Daerah Jawa Tengah, di Semarang, Senin (15/3/2010).
Joko menjelaskan, jaringan rel yang dibangun Belanda pada masa lalu, hingga saat ini masih ada dan dapat difungsikan kembali apalagi, jaringan rel ini menghubungkan seluruh wilayah di Pulau Jawa, kecuali wilayah Salatiga dan Pacitan.
dalam catatan Joko, jaringan rel kereta api di Pulau Jawa mencapai panjang 1.130 kilometer dan baru sekitar 502 kilometer di antaranya saja yang beroperasi.
Oleh karena itu, jika jaringan rel kereta api ini akan dihidupkan kembali, pemerintah tidak perlu melakukan pengadaan lahan, namun cukup dengan menertibkan masyarakat yang tinggal di jaringan rel tersebut.
Menurut dia, pembangunan kembali jaringan kembali rel kereta api ini akan mempermudah distribusi angkutan barang, jika dibanding menggunakan angkutan jalan raya.
Ia mencontohkan, distribusi batu bara atau minyak dengan kapasitas besar akan menyebabkan jalan raya lebih cepat rusak.
Oleh karena itu, lanjut dia, dengan menghidupkan kembali jalur kereta yang sudah lama mati ini, pemerintah sesungguhnya tidak perlu membangun jalan tol yang membutuhkan biaya tinggi dan mengancam keberadaan lahan pertanian.
“Untuk membangun satu kilometer jalan tol, butuh biaya sekitar Rp80-90 miliar, sementara untuk menghidupkan kembali jaringan rel yang mati hanya akan membutuhkan sekitar Rp10 miliar,” katanya.
Selain itu, pemerintah pusat juga telah menyatakan kesanggupannya untuk mengucurkan anggaran untuk penghidupan kembali jalur rel yang mati ini.
Sementara itu, anggota Panitia Khusus Rancangan Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah DPRD Jawa Tengah M. Haris mengatakan, pihaknya memperhatikan masukan untuk menghidupkan kembali jaringan rel kereta api ini.
Bahkan, politikus Partai Keadilan Sejahtera ini, pembahasan tentang rel kereta yang “mati suri” ini juga sudah masuk dalam draf pembahasan rencana tata ruang.
“Rencana tata ruang ini berlaku hingga 25 tahun ke depan, namun untuk menghidupkan kembali jalur kereta yang mati ini tentunya tidak perlu menunggu bertahun-tahun,” katanya. (Antara).
