Masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi khawatir dikarenakan dalam tiga hari terakhir ini, udara panas dirasakan warga pemukiman penduduk di lereng gunung paling aktif di Indonesia yang terletak di Kabupaten Magelang. Masyarakat khawatir terkena imbas dari aktivitas gunung berapi tersebut.
“Udara terasa panas tak hanya siang, tetapi juga malam. Sehingga tidur tidak pakai selimut,” kata Muh Sholeh, warga Dusun Pondok, Desa Srumbung, Kecamatan Srumbung, Selasa (2/3).
Pada hari-hari sebelumnya, suhu udara di kawasan pemukiman Lereng Merapi 18 sampai 20 derajat Celsius. Tetapi tiga hari terakhir ini, 23 hingga 25 derajat Celsius. “Pada malam hari sebelumnya 15 sampai 17 derajat Celsius, tetapi belakangan 19 hingga 20 derajat Celsius,” kata Achmad Muslim, juga warga Srumbung.
Keluhan serupa diutarakan Asnawi, warga Desa Ngadipuro, Kecamatan Dukun. “Udara sangat panas. Berbeda dengan hawa hari- hari sebelumnya. Aktivitas sebentar, sudah mandi peluh. Jangan-jangan ada peningkatan kegiatan Merapi,” katanya.
Ahmad Shopari, petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi, di Ngepos, Srumbung, mengemukakan, peningkatan suhu udara bukan imbas peningkatan aktivitas gunung berapi yang dikenal aktif sepanjang tahun tersebut. “Hawa panas itu faktor alam. Tak ada kaitannya dengan Merapi. Karena statusnya masih aktif normal. Gempa tektonik terjadi sehari satu sampai tiga kali,” katanya.
Tinggi kepulan asap sulfatara juga masih pada tataran normal yakni 400 meter dari atas puncak Merapi. Rapat Senin (1/3) di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta disimpulkan status bahaya Merapi masih aktif normal. Karena belum ada perubahan aktivitas yang signifikan.
