Kementerian Pertanian menjamin pada tahun ini (2010) tidak melakukan impor beras dari luar negeri, karena produksi beras nasional melampaui tingkat kebutuhan dalam negeri.
Menteri Pertanian, Suswono di Jakarta, Rabu (3/3) mengatakan, dari Angka Ramalan (Aram) I yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa hari lalu, terlihat produksi padi 2010 naik 0,88 persen dari 2009 atau dari 64,3 juta ton gabah kering giling (GKG), menjadi 64,9 juta ton GKG. “Dari data ini bisa dipastikan 2010 tidak akan ada impor beras. Apalagi biasanya Aram I merupakan angka pesimis, atau lebih rendah dari angka tetap,” katanya di sela peringatan Maulid Nabi Muhammad di Gedung Kementerian Pertanian.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, angka ramalan (ARAM) I produksi padi 2010 diperkirakan sebesar 64,9 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), naik 568,37 ribu ton atau 0,88 persen dibanding angka sementara (ASEM) 2009 sebesar 64,33 juta ton GKG. “Dibandingkan produksi tahun 2008, terjadi peningkatan sebanyak 4,00 juta ton atau 6,64 persen,” kata Kepala BPS, Rusman Heriawan.
Menurutnya, kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen seluas 13,71 ribu hektar (0,11 persen) dan juga produktivitas sebesar 0,39 kuintal/hektar (0,78 persen). “ARAM I tergolong pesimis, dibanding tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai lima persen peningkatannya. Tapi masih ada pertumbuhan, dan itu mencukupi kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.
Suswono juga mengatakan, produksi padi sekitar 64,9 juta ton tersebut setara dengan 36,5 juta ton beras. Sedangkan kebutuhan dalam negeri sekitar 32,7 juta ton per tahun. Dengan demikian, diperkirakan pada Juni 2010 akan terjadi kelebihan beras sebanyak 5,5 juta ton, atau cukup untuk memenuhi kebutuhan dua bulan ke depan sementara pada September kembali memasuki musim tanam.
Ketika ditanyakan kemungkinan untuk melakukan ekspor beras, Menteri menegaskan, kelebihan produksi dalam negeri tersebut lebih diarahkan untuk memenuhi Cadangan Beras Nasional (CBN). “Idealnya CBN sebanyak 1 juta ton, namun saat ini baru sebanyak 500 ribu ton,” katanya. (Ant)
