SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo meminta bupati/walikota untuk mencermati kebijakan yang diambil. Pernyataan ini diungkapkan Gubernur menanggapi kedatangan sapi impor di Kabupaten Pekalongan.
“Pengampu kebijakan itu yang paling mengerti kondisi wilayahnya. Wilayahnya punya potensi apa. Kalau didatangkan (sapi impor—red) berpotensi mengganggu atau tidak. Itu juga harus dipikirkan,” jelasnya usai Rapat Koordinasi Dewan Penyantun Tim Penggerak PKK Provinsi Jateng TA 2010, di Gedung Gradhika Bhakti Praja, kemarin.
Bibit mengatakan, bupati/walikota selaku pemegang kewenangan di daerahnya masing-masing merupakan pihak yang secara teknis riil mengetahui kondisi di lapangan.
“Kalau kebijakan itu merugikan rakyat, sebaiknya jangan diambil. Namun, kalau menguntungkan, ya silahkan,” ujarnya.
Impor sapi yang menuai protes dari para peternak setempat tetap berlangsung. Bahkan, beberapa truk sapi impor berdatangan di kandang sapi yang terletak di Perumahan Wira Baru, Wiradesa. Kehadiran sapi-sapi impor itu meresahkan para peternak sapi lokal. Mereka khawatir itu akan menyingirkan para peternak sapi.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng, M. Haris, mengatakan, kebijakan pemerintah untuk impor sapi dinilai masih diperlukan sebagai salah satu upaya untuk mencapai swasembada daging di Jawa Tengah pada Tahun 2014. Meski demikian, kebijakan impor sapi tidak dapat dilakukan secara terus menerus.
“Jateng masih kekurangan pasokan sapi untuk mewujudkan swasembada daging pada Tahun 2014,” jelasnya.
Ia berharap, ada mekanisme yang jelas dalam impor sapi. Termasuk penetapan sistem zonasi peternakan sapi.
Ia menjelaskan, wilayah utara Jawa Tengah merupakan kawasan peternak sapi pedaging sedangkan wilayah lain seperti Kabupaten Boyolali dan Semarang kawasan peternak sapi perah.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Pemprov Jateng, Whitono, menyatakan kesiapannya untuk berkoordinasi pihak terkait dengan impor sapi agar para peternak lokal tidak resah.
Ia mengatakan, sekitar 30 persen pemenuhan kebutuhan daging sapi di Indonesia hingga saat ini berasal dari luar negeri.
Namun, katanya, Jateng sudah mampu menjadi salah satu penyangga kebutuhan daging nasional.
“Sapi impor yang masuk ke provinsi ini akan digemukkan dahulu lalu dijual. Tidak semua sapi impor ini dipotong di Jateng,” katanya. (Prasetyabudi)
