SEMARANG – Sejumlah pedagang di pasar tradisional di Semarang mengaku khawatir dengan temuan uang palsu (upal) yang marak lagi. Model transaksi yang berlangsung cepat, ditengarai tak memungkinkan para pedagang mengecek satu per satu uang dari pembeli.
Pantauan di lapangan, memang banyak pedagang pasar yang tidak memiliki alat pendeteksi uang, sehingga kerap menderita kerugian akibat menerima pembayaran pecahan Rp 50.000 atau Rp 100.000 palsu.
Rina (39), pemilik kios Bu Sri Telur yang ada di Pasar Johar mengaku, meski dirinya baru mengetahui upal kembali beredar, ia senantiasa melakukan pengecekan. Yang dicek biasanya uang pecahan Rp 50.000 atau Rp 100.000.
Biasanya Rina menggunakan cara sederhana, penyinaran bohlam ungu. Dia mengajak pedagang kecil yang ada di sekitar kiosnya untuk mengecek di tempatnya bila menerima pembayaran pecahan besar.
”Biar tidak menyinggung pembeli, saya suruh mereka berpura-pura menukar uang. Padahal sebenarnya ngecek di tempat saya,” paparnya.
Ada banyak cara tradisional pedagang mengetahui asli atau tidaknya uang rupiah. Nurul (24), pedagang di Pasar Bulu mengaku upal sempat beredar di pasar tersebut. Selain melakukan 3D (dilihat, diraba, diterawang), pedagang memiliki cara lain yang dianggap ampuh selain menggunakan penyinaran. Cukup membasahi tangan terlebih dahulu. Apabila uang tersebut palsu, maka lintasnya akan luntur. Sebaliknya, bila uang tersebut asli, uang hanya akan basah saja.
Cara lain adalah menggunakan lemak ayam. Nurul yang kebetulan merupakan pedagang ayam potong kerap mempraktikkannya. ”Bila uang itu asli, lemak ayam bisa merembes dan uang tidak akan luntur. Hanya terlihat ada noda lemak pada uang itu,” jelasnya ( SM/Admin )