YOGYAKARTA – Buku ini mudah-mudahan tidak hanya menjawab rahasia di balik sk
andal Bank Century, melainkan juga berusaha menjawab rahasia di balik kemenangan fantastis Partai Demokrat yang suara pemilihnya naik tiga kali lipat dalam satu periode pemerintahan, dari sekitar tujuh persen menjadi sekitar 20 persen.
Itulah salah satu kesimpulan dari buku “Membongkar Gurita Cikeas Di Balik Skandal Bank Century karya Geoge Junus Aditjondro dengan ukuran 15X23 centimeter sebanyak 183 halaman. Skandal Bank Century tak ayal menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi SBY. Ia harus bisa membuktikan janjinya sebagai panglima di garda depan untuk memerangi korupsi.”Katakan Tidak untuk Korupsi” itulah slogan yang didengungkan SBY, Kader-kader Demokrat dan keluarga Cikeas.
Di dalam buku yang dipatok dengan harga Rp 36.000 ini, Aditjondro memaparkan tulisannya menjadi tujuh judul yaitu: Pertama, Membongkar Gurita Cikeas, di Balik Skandal Bank Century;Kedua, Bantuan Grup Sampoerna untuk Harian Jurnas; Ketiga, Pemanfaatan PSO LKBN Antara untuk Bravo Media Center; Keempat, Yayasan-Yayasan yang Berafiliasi dengan SBY; Kelima, Kaitan dengan Bisnis Keluarga Cikeas; Keenam, Yayasan-yayasan yang Berafiliasi dengan Ny. Ani Yudhoyono; Ketujuh, Pelanggaran-pelanggaran UU Pemilu oleh Caleg-caleg Partai Demokrat.
Di halaman awal tulisannya yang berjudul Membongkar Gurita Cikeas, Aditjondro mengutip Pernyataan Presiden SBY dalam pidatonya Senin malam, 23 November 2009 yang menanggapi rekomendasi Tim 8 yang telah dibentuk oleh Presiden sendiri untuk mengatasi krisis kepercayaan yang meledak di tanah air. ….Apakah pernyataan modal sementara yang berjumlah Rp 6,7 triliun itu ada yang bocor atau tidak sesuai dengan peruntukannya? Bahkan berkembang pula desas-desus, rumor atau tegasnya fitnah, yang mengatakan bahwa sebagian dana itu dirancang untuk dialirkan ke dana kampanye Partai Demokrat dan Capres SBY, fitnah yang sungguh kejam dan sangat menyakitkan”.
Menurut Aditjondro yang meraih gelar Doctor of Philosophy di Cornell University, Ithaca, New York, pernyataan SBY yang begitu defensif dalam menangkal adanya kaitan antara konflik KPK versus Polri dengan skandal Bank Century tersebut bagaikan membuka kotak Pandora yang sebelumnya agak tertutup oleh drama yang dalam bahasa awam populer dijuluki drama cicak melawan buaya.
Selanjutnya dalam buku ini Aditjondro juga mengungkapkan bahwa selain melalui lebih dari selusin tim kampanye, penggalangan dukungan politis dan ekonomis bagi SBY dimonotori oleh yayasan-yayasan yang berafiliasi dengan SBY dan Ny. Ani Yudhoyono (Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam , Yayasan Puri Cikeas, Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian). Ketiga Yayasan tersebut tidak dipimpin oleh SBY sendiri tapi oleh orang-orang dari inner circl. Hasil audit ketiga yayasan itu oleh auditor publik yang betul-betul independen belum pernah dilaporkan ke parlemen dan media massa.
Yayasan tersebut sejauh tidak menggunakan uang rakyat dan murni dibiayai oleh pengusaha swasta tidak masalah. Namun karena Sofyan Basir, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia adalah Wakil Ketua Dewan Pembina Yayasan Puri Cikeas, maka keuangan yayasan ini perlu diaudit dan dilaporkan ke parlemen, mengingat BRI merupakan BUMN. Secara khusus para nasabah Bank Bukopin juga berkepentingan mengetahui laporan keuangan yayasan ini, sebab Dirut Bank Bukopin, Glen Glenardi, adalah Ketua Badan Pengawas Yayasan ini.
Buku ini juga menyebutkan tentang berbagai pelanggaran-pelanggaran UU Pemilu oleh kader Partai Demokrat yang terjadi di berbagai daerah diantaranya di Samosir Sumatera Utara, kabupaten Ploso Sulawesi Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam, Propinsi Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur.Penggalangan dana yang luar biasa serta besarnya pembelian suara oleh para kadernya, memainkan peranan yang besar dalam melonjaknya angka pemilih Partai Demokrat dan calon presidennya.
Yang menarik dari buku ini, justru lampirannya lebih banyak daripada pemaparan isi buku. Untuk lampiran berjumlah 96 halaman dan pemaparan dari isi buku hanya 59 halaman. Isi lampiran antara lain: Tim-tim Kampanye Partai Demokrat dan Capres-Wapres SBY-Boediono, Susunan Dewan Pengurus Yayasan Puri Cikeas Periode 2006-2011, Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian, Aktivitas Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian, Gara-gara Artalyta, Syamsul Nursalim tetap melenggang, Allure, meluncur di alur Yayasan Batik Indonesia, Susunan Pengurus dan Peneliti Brighten Institute.
Di dalam buku ini Aditjondro mengemukakan guna mencegah kembalinya tradisi buruk yang dirintis mendiang Jenderal Soeharto, SBY perlu bersikap lebih tegas terhadap kerabat dan sahabatnya. Agar tidak mengambil jalan pintas mengembangkan bisnis dengan mncari order dari bankir-bankir pemerintah, serta birokrat-birokrat papan atas. SBY juga perlu mendorong kerabat dan sahabatnya untuk menolak pemberian kemudahan dalam penyediaan jasa jalan, listrik dan bahan bakar bersubsidi, bagi pengembangan pabrik yang baru berdiri kemarin sore. Sikap tegas terhadap keluarga dan sahabat merupakan dasar moral untuk mengambil sikap tegas terhadap semua pejabat yang melakukan komersialisasi jabatan. (rpo)
